Minggu, 11 Januari 2015

Rumah

Hai.
Ya, aku akan memulai awal dari entri (aneh) ini dengan sebuah sapaan "hai". Siapa sangka sebuah sapaan dapat memulai sebuah entri yang akan sangat panjang untuk beberapa menit ke depan, yeay? Sama seperti reuni dadakan, misalnya kau bertemu teman lamamu saat dalam perjalanan ke sebuah tempat, menyapa hai, berjabat tangan, membicarakan hal-hal apa saja yang terlewatkan dalam beberapa minggu-bulan-tahun terakhir yang kalian lewatkan di tempat yang berbeda, terpisah dengan satuan jara mil (mungkin?). Indah, bukan?
Jadi, aku sedang terjebak dalam liburan (cukup) pendekku di kota terpencil di sebuah pulau. Mungkin terdengar dramatis tapi enggak kok, ini kenyataan. Pagi ini aku bangun kesiangan, ugh, dimana ini tidak akan kau alami ketika hari liburmu habis ditelan oleh waktu. Oke, kembali ke bangun kesiangan. Aku tidak memiliki atau mungkin tidak akan memiliki rencana untuk bepergian hari ini. Eum, sebenarnya aku bangun jam 06:30, yang seharusnya untuk liburan, itu tidak bisa dinamakan dengan kesiangan.
Kemudian aku membaca renungan. Dan. Aku berpikir bahwa aku perlu melakukan sesuatu. Karena scrolling up-down your timeline is absolutely zonk.
Aku bergerak ke arah laptop dan di sinilah aku sekarang. Duduk. Mendengar soundtrack sebuah film. Dan. Menulis.
Sebenarnya aku tidak berpikir untuk memoles blogku dengan sebuah tulisan di pagi hari. Tidak berpikir sama sekali bahwa aku akan duduk di depan laptop-di samping pohon natal- dengan rambut yang (masih) acak-acakan, air mineral di samping kanan, dan sinar matahari yang datang dari jendela, tepat dibelakangku.


Aku sebenarnya sedang tidak berniat untuk membukan chat di salah satu grup line yang membicarakan perkembangan sebuah web yang berisi nilai, ya nilai. Emh..n i l a i.
Aku enggak bisa pungkiri kalau aku juga melihat perkembangan web itu beberapa menit yang lalu. Yha, hanya sekedar melihat kok kemudian stres. HAHA enggak deng. Serius, enggak.
Aku terlalu muda untuk stres di hari libur, terlalu frustasi menyaksikan rambutku rontok.

Rumah.
Tinggal hitungan hari dan liburan akan selesai. Aku akan benar-benar jauh dari rumah. Berada di pulau yang berbeda. Jadi yang bisa aku lakukan adalah merekam setiap rasa masakan rumah, menyimpan aroma rumah dalam otakku, dan merasakan kehangatan rumah yang akan aku bawa ke pulau sana.
Mungkin saat belum jauh dari rumah, hal ini tidak cukup berarti. Tapi setelah jauh dari rumah, libur tidak akan membosankan walaupun tidak "liburan" sesungguhnya, setiap rasa dalam makanan rumah akan sangat berarti, setiap sudut dalam rumah akan kau rekam untuk kau bayangkan di sana saat kau mulai rindu, kehangatan akan sangat berarti saat di sana (di kamar kostmu) sepi-hampa-kosong.
Aku sudah bisa membayangkan hal pertama apa yang kurasakan saat membuka pintu kamar kost. Sama keadaannya saat setelah mengantar mamaku ke bandara, dia menangis di bandara dan aku tertawa, kemudian di kamar aku menangis. Ini benar-benar jauh dari rumah.
Seharusnya aku sudah mencium aroma masakan setiap pagi, seharusnya aku mendengar kericuhan oleh ketiga adikku, tapi di sana tidak.
Apa aku harus berpuisi seperti Rangga -aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai-? 
Sekedar untuk memecah kesepian. ((eh, jangan berpikir bahwa aku hapal puisi Rangga (di AADC), aku sampai googling kok))
Kesenangan berada di rumah enggak sekedar bebas minta uang jajan, mau makan ini-itu dibeliin (Emangnya kalau nge-kost enggak dibeliin ya, Mblo? Kasihan. Sama dong), kalau baru-baru pulang ke rumah disayang-sayang setelah beberapa hari-satu mingguan mungkin- disuruh ini-itu, diomelin tiap satu meter melangkah. Tapi itu kok hal yang bakal paling dikangenin, gimana dong? Rasanya seperti makan permen karet, manisnya bikin gemes pingin nelan tapi kalau di telan jadi sakit #perumpamaan #gagal.

Aku akan selalu merindukan rumah.


Minggu, 14 September 2014

mungkin




Jadi, kalau di entri sebelumnya aku berencana mengikat tali sepatuku, di entri ini aku akan tetap bercerita bagimana aku akan memulai mengikat tali sepatuku. 
Aku sedang berada di proses pendewasaan, yang dimana semua orang mengatakan dewasa itu membosankan. Mungkin iya, mungkin..

Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang menjadi pelajaran. Hal menggenggam dan hal melepaskan. Melepaskan. Tidak semudah ketika engkau menggenggam pasir dan kemudian pasirnya terjatuh bebas melalui celah tanganmu. Tidak semudah melepaskan balon ke udara.

Mungkin susulit memberikan sedikit makanan kesukaanmu yang sudah lama engkau tunggu untuk makan kepada temanmu. Sesulit melawan rasa takutmu.

Tidak ada yang suka kehilangan ketika kita sudah benar-benar menyukainya. Tapi mungkin sejak kecil pun kita sudah belajar untuk melepaskan. Contohnya, ketika mainanmu rusak dan jalan satu-satunya adalah menangis di pangkuan ayah/ibumu.

Melepaskan. Kehilangan. Itu seperti matamu terkena sesuatu yang membuat pedih dan tak ada satu pun yang membuatnya lebih baik. Seperti ketika engkau sehabis lari dan butuh udara banyak. Selalu. Berusaha. Untuk. Membuat. Keadaan. Lebih. Baik.

Terkadang kita terlalu larut dalam suasana yang kita genggam hingga suatu saat ketika kita sadar bahwa kita harus melepas, hal yang kita lakukan adalah mencoba menggenggamnya sekuat apapun, dengan cara apapun. Dan pada akhirnya, kita memang harus melepaskan..

Seperti halnya berenang. Ada kalanya muncul di permukaan air untuk mengambil nafas, mungkin seperti halnya menggenggam-melepaskan. 
Saat kita sudah berenang terlalu jauh dan kita butuh oksigen.
Saat kita sudah menggenggam terlalu jauh dan kita butuh jeda, berdiam diri, dan mungkin untuk melepaskan atau menggengamnya kembali.


Sudah berjalan terlalu jauh untuk saat ini. Untuk menoleh ke belakang pun mungkin tidak sempat. Terlalu lamban kalau memikirkan berbagai kesalahan tetapi tidak ada usaha untuk berubah. Terlalu ironis mengharapkan suatu perubahan saat-saat kita sudah kehilangan rasa percaya.


Saat kita melepaskan, akan ada banyak hal baru yang menunggu kita. Dan saat kita ingin menggenggam-mungkin tidak menggengam sekedar ingin mengetahui apa yang terjadi-tidak ada kesempatan untuk memulainya kembali.
Bahkan sebuah sapaan "Hi!" pun mungkin tidak berguna lagi karna mungkin mereka mengabaikanmu.


-people change and i'm this close to losing it-



Rasanya (dalam suatu waktu) ingin berada di tempat yang aku merasa "ini adalah bagian dari aku dan aku bagian dari mereka" and everything is just the way they are.


Sabtu, 05 Januari 2013

thank you

kita hidup di dunia ini bukan tanpa alasan. kita memiliki nafas dan semua terlihat indah.
kita berada di kehidupan ini dan kita bertemu dengan orang-orang yang super.
gak peduli gimana wajahnya. gak peduli apapun keadaannya. gak peduli bagaimana dia. tapi ketika mereka hadir dan membuat kita merasa nyaman, beban dalam hati kita sedikitnya berkurang.

di sini bukan soal gimana mereka menyentuh hati kita. semua orang dapat melakukannya, dengan cara cepat ataupun lambat. lalu apakah mereka hadir sedetik lalu menghilang pada detik berikutnya?

tapi di sini soal bagaimana mereka hadir dalam hidup kita. membuat kita merasa nyaman. dan selalu hadir saat kita membutuhkan dalam suka maupun duka. gak ada kata untuk 'berpisah' saat duka atau 'bersatu' hanya pada saat suka.

mereka...
orang-orang super 
selalu ada di samping kita. gak peduli seberapa kecilnya kita dihadapan oranglain tapi mereka selalu ada untuk kita..
selalu ada saat-saat kita benar-benar jatuh. 
saat kita gak tau arah. mereka ada...

ada untuk mengelus pundak kita sambil berkata "sabar ya. masih ada kami dan selalu ada Tuhan di sampingmu"
ada untuk menghapus airmatamu, mengubah kumpulan airmatamu menjadi tumpukan tawa yang tak terbendung.
ada untuk memegang tangan kita sambil berkata "jangan pernah takut, kau gak pernah sendirian"
ada untuk memeluk kita saat kita bahkan gak tau kemana kita untuk bersandar.
ada untuk mengarahkan kita saat kita udah ke arah jalan lain


sederhana memang tapi itu cukup berarti. kalian semua, orang-orang yang super!
mungkin tanpa mereka, kita gak ada apa-apanya.

makasih buat
KELUARGA SAHABAT
dan trimakasih Bapa karna telah memberi mereka untuk kami..


keluarga..
smua pasti punya keluarga kan? ya pastilah. jangan lupa ucapkan trimakasih buat oppung, mama, papa, adik-adik, dan semua keluargaaaaaaaa kita. karena mereka adalah orang-orang yang nomor satu. tempat kita berkembang dan bertumbuh. tempat kita memperoleh bimbingan.
masih ingat masa kecil? waktu kita jatuh dan terluka siapa yang paling heboh? keluarga. siapa yang paling khawatir? keluarga. siapa yang menggendong kita lalu niup-niup luka kita biar gak terasa perih? keluarga. semuanya gak lepas dari keluarga. keluarga itu...luar biasa pentingnya.
sampai hari ini dan sampai detik ini, keluargalah yang akan selalu paling khawatir akan masa depan kita. keluarga merangkul kita. keluarga kita hebat 

sahabat..
nah, kalau yang satu ini pasti udah gak asing lagi. yang namanya s-a-h-a-b-a-t gak akan jelekin sahabatnya sendiri. apapun ceritanya!
sekarang di zaman yang udah berkembang pesat gini, kadang kita susah bedain yang mana kawan dan yang mana lawan.
orangtua pernah bilang gini "diantara kelima temanmu, gak semuanya bisa jadi sahabatmu. itu sebabnya kamu harus bisa melihat mana yang tulus"
yang namanya teman selalu akan jadi teman. karna gak akan pernah ada yang namanya "mantan teman".
makasih buat semua sahabat yang udah selalu ada di sini.. selalu ada untuk menjaga satu sama lain..
makasih buat Dita, Putri P, Putri S, Talenta,Maria Siahaan, Exa, Rukmana Elisabeth, Beatrix, Felicia, SIlvia, Bang Ferdinand, Kak Siska, Kak Laura, Kak Windy, sebelas ipa enam, sembilan c, dan semuanyaaaaaa. kalo disebutin satu per satu gak kelar sampe besok.
makasih udah selalu ada. makasih udah jadi alasan untuk semua tawa selama ini. tanpa kalian...aku gak ada apa-apanya.


jadi inti dari intinya tulisan ini, hargai setiap orang yang hadir dalam hidup kita. walaupun dia menawarkan luka. tapi dia tetap dia yang mengajarkan kita banyak hal.
hargai setiap detik yang kita miliki bersama mereka. karna mereka menyayangi kita dan kita menyayangi mereka.

dan gak akan berhenti ngucap syukur sama Tuhan, karna Dia hadirkan orang yang luar biasa dalam hidup kita. trimakasih untuk segala tawa dan sedih yang datangnya selalu sepaket :-D
trimakasih untuk mengajarkan kami 'arti' dari mengasihi sesama kami secara tulus ♥ :')

WELCOME
Blogger Templates