Ya, aku akan memulai awal dari entri (aneh) ini dengan sebuah sapaan "hai". Siapa sangka sebuah sapaan dapat memulai sebuah entri yang akan sangat panjang untuk beberapa menit ke depan, yeay? Sama seperti reuni dadakan, misalnya kau bertemu teman lamamu saat dalam perjalanan ke sebuah tempat, menyapa hai, berjabat tangan, membicarakan hal-hal apa saja yang terlewatkan dalam beberapa minggu-bulan-tahun terakhir yang kalian lewatkan di tempat yang berbeda, terpisah dengan satuan jara mil (mungkin?). Indah, bukan?
Jadi, aku sedang terjebak dalam liburan (cukup) pendekku di kota terpencil di sebuah pulau. Mungkin terdengar dramatis tapi enggak kok, ini kenyataan. Pagi ini aku bangun kesiangan, ugh, dimana ini tidak akan kau alami ketika hari liburmu habis ditelan oleh waktu. Oke, kembali ke bangun kesiangan. Aku tidak memiliki atau mungkin tidak akan memiliki rencana untuk bepergian hari ini. Eum, sebenarnya aku bangun jam 06:30, yang seharusnya untuk liburan, itu tidak bisa dinamakan dengan kesiangan.
Kemudian aku membaca renungan. Dan. Aku berpikir bahwa aku perlu melakukan sesuatu. Karena scrolling up-down your timeline is absolutely zonk.
Aku bergerak ke arah laptop dan di sinilah aku sekarang. Duduk. Mendengar soundtrack sebuah film. Dan. Menulis.
Sebenarnya aku tidak berpikir untuk memoles blogku dengan sebuah tulisan di pagi hari. Tidak berpikir sama sekali bahwa aku akan duduk di depan laptop-di samping pohon natal- dengan rambut yang (masih) acak-acakan, air mineral di samping kanan, dan sinar matahari yang datang dari jendela, tepat dibelakangku.
Aku sebenarnya sedang tidak berniat untuk membukan chat di salah satu grup line yang membicarakan perkembangan sebuah web yang berisi nilai, ya nilai. Emh..n i l a i.
Aku enggak bisa pungkiri kalau aku juga melihat perkembangan web itu beberapa menit yang lalu. Yha, hanya sekedar melihat kok kemudian stres. HAHA enggak deng. Serius, enggak.
Aku terlalu muda untuk stres di hari libur, terlalu frustasi menyaksikan rambutku rontok.
Rumah.
Tinggal hitungan hari dan liburan akan selesai. Aku akan benar-benar jauh dari rumah. Berada di pulau yang berbeda. Jadi yang bisa aku lakukan adalah merekam setiap rasa masakan rumah, menyimpan aroma rumah dalam otakku, dan merasakan kehangatan rumah yang akan aku bawa ke pulau sana.
Mungkin saat belum jauh dari rumah, hal ini tidak cukup berarti. Tapi setelah jauh dari rumah, libur tidak akan membosankan walaupun tidak "liburan" sesungguhnya, setiap rasa dalam makanan rumah akan sangat berarti, setiap sudut dalam rumah akan kau rekam untuk kau bayangkan di sana saat kau mulai rindu, kehangatan akan sangat berarti saat di sana (di kamar kostmu) sepi-hampa-kosong.
Aku sudah bisa membayangkan hal pertama apa yang kurasakan saat membuka pintu kamar kost. Sama keadaannya saat setelah mengantar mamaku ke bandara, dia menangis di bandara dan aku tertawa, kemudian di kamar aku menangis. Ini benar-benar jauh dari rumah.
Seharusnya aku sudah mencium aroma masakan setiap pagi, seharusnya aku mendengar kericuhan oleh ketiga adikku, tapi di sana tidak.
Apa aku harus berpuisi seperti Rangga -aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai-?
Sekedar untuk memecah kesepian. ((eh, jangan berpikir bahwa aku hapal puisi Rangga (di AADC), aku sampai googling kok))
Kesenangan berada di rumah enggak sekedar bebas minta uang jajan, mau makan ini-itu dibeliin (Emangnya kalau nge-kost enggak dibeliin ya, Mblo? Kasihan. Sama dong), kalau baru-baru pulang ke rumah disayang-sayang setelah beberapa hari-satu mingguan mungkin- disuruh ini-itu, diomelin tiap satu meter melangkah. Tapi itu kok hal yang bakal paling dikangenin, gimana dong? Rasanya seperti makan permen karet, manisnya bikin gemes pingin nelan tapi kalau di telan jadi sakit #perumpamaan #gagal.
Aku akan selalu merindukan rumah.

